Jumat, 14 November 2014
Minggu, 09 November 2014
Pola-pola Hereditas
Pada dasarnya prinsip pewarisan sifat dari induk pada
filial/keturunannya pertama kali dikemukakan oleh percobaan dengan Pisum
sativum (ercis) oleh Mendell (1822-1884). Mendell mengemukakan 2 hukum yang
terkait dengan hereditas yaitu:
A. Hukum
Mendell
Hukum Mendell I (segregasi) à dalam proses gametogenesis pada individu heterozigot akan
terjadi pemisahan gen secara bebas. Hukum ini diperoleh pada persilangan
genotip monohibrid.
Misalnya, pada
individu dengan genotip Bb akan menghasilkan gamet B dan b saat gametogenesis.
Hukum Mendell II (asortasi) à gen-gen dari sepasang alela akan memisah selama meiosis
dan akan membentuk gamet kembali secara bebas.
Misalnya, pada
individu dengan genotip BbKk
à B --->K = BK
B ---> k = Bk
b ---> K = bK
b ---> k = bk
Hukum Mendell
II diperoleh pada persilangan genotip dihibrid.
Dari hukum Mendell diatas sifat dominan akan menutupi terhadap sifat resesif
ketika terjadi persilangan (hibrid). Disamping itu dalam persilangan organisme
terjadi beberapa penyimpangan dari hukum Mendell yang biasanya dikenal dengan
penyimpangan semu hukum Mendell.
B. Penyimpangan
Semu Hukum Mendell
Peristiwa yang termasuk di dalam penyimpangan semu hukum Mendell antara lain:
a.
Intermediet à
muncul ketika sifat dominan bertemu
dengan sifat resesif dalam arti pada kondisi heterozigot sifat dominan tidak
lagi sepenuhnya menutupi sifat resesif karena keduanya memiliki probabilitas
sama. Contoh: munculnya warna merah muda pada persilangan bungan warna merah
dan putih.
b.
Epistasis dan hipostasis à
muncul pada persilangan dimana gen
dominan atau resesif menutupi terhadap gen dominan atau resesif yang lain yang
bukan alelanya dimana gen yang menutupi bersifat epistasis dan yang
tertutupi bersifat hipostasis. Hasil persilangan ini akan menghasilkan
perbandingan fenotip 12 : 3 : 1. Contoh: warna gandum bulu ayam, warna
tubuh mencit, dll.
c.
Kriptomeri à
muncul karena satu gen dominan yang
tidak memunculkan pengaruhnya jika sendiri tanpa gen dominan lanilla dan
apabila gen dominan tersebut bergabung akan memunculkan individu dengan fenotip
baru. Hasil persilangan seperti ini akan memiliki perbandingan fenotip 9: 3 :
4. Contoh: Hasil persilangan oleh Correns (1912) pada bunga Linaria
maroccana.
d.
Polimeri à
muncul akibat terjadi pembastaran
heterozigot dengan banyak sifat beda yang berdiri sendiri Namur mempengaruhi
bagian yang sama pada organisme. Hasil persilangan ini akan menghasilkan
perbandingan fenotip 15 : 1. Contoh: kulit gandul, kulit manusia, dll.
e.
Interaksi antargen à
terjadi karena interaksi saling
mempengaruhi antara 2 pasang gen atau lebih. Tetapi hasil hibrid ini tidak
menyimpang dari perbandingan fenotip dihibrid hukum Mendell yaitu 9 : 3 : 3 :
1, akan tetapi muncul dua sifat baru yang berbeda dari parentalnya. Contoh:
pial pada ayam.
f.
Gen Komplementer à
terjadi akibat interaksi antar gen yang
saling melengkapi dan apabila salah satu gen tidak muncul, maka ekspresi statu
karakter akan hilang. Perbandingan fenotip hasil persilangan ini 9 : 7. Contoh:
bisu tuli pada manusia, pigmen pada kacang Manis (Lathyrus odoratus).
C.
Tautan/Pautan serta Pindah Silang (Crossing over)
Peristiwa tautan dikemukakan oleh Sutton dimana dia
berpendapat bahwa jika ada gen –gen yang mengendalikan dua sifat beda berada
pada kromosom yang sama maka gen-gen tersebut tidak dapat memisah secara bebas.
Disamping itu untuk gen-gen yang berdekatan lokusnya akan cenderung memisah
bersama-sama à
disebut linkage (tautan). Kondisi tautan dapat diuji dengan tes cross dihibrid.
Jika;
1.
gen bebas (tidak ada tautan) à
perbandingan fenotip F2 = 1
: 1 : 1 : 1
2.
Pautan sempurna à
jika KP (kombinasi parental) : RK
(rekombinan)
adalah 1 : 1
3.
Tautan tak sempurna (pindah
silang/crossing over)
à KP > 50% dan
RK
< 50%.
(baik pada susunan gen sis/ n : 1 : 1 : n atau trans/ 1 : n : n : 1)
D. Tautan Sex
(Sex linkage)
Pertama kali dikemukakan oleh T. H. Morgan (1901) yang menyimpulkan bahwa dari
percobaan dengan D. melanogaster gen warna mata tertaut pada
kromosom X dan warna merah dominan terhadap putih. Contoh gen yang tertaut pada
kromosom Y adalah penyakit Hypertrichosis.
E. Gagal
berpisah Non disjunction)
Calvin B. Bridge kelompok dari Morgan memberikan suatu
kesimpulan bahwa pada saat pembentukan sel kelamin kadang-kadang kromosom
kelamin tidak memisah secara bebas dan tetap tidak memisah bersama-sama. Akibat
peristiwa ini pada manusia muncul sindrom turner, klinefelter, wanita super,
pria XYY.
F. Gen Letal
Gen dominan ataupun resesif dalam keadaan homozigot akan
menyebabkan kematian individu. Contoh gen letal dominan à
Brakifalangi, Huntington Disease HD,
gen A* pada tikus. Sedangkan gen letal resesif à
gen ictyosis congenita, gen m pada
sapi, gen g pada jagung.
G. Hereditas
Pada Manusia
Cacat bawaan dan penyakit menurun pada manusia dibedakan menjadi 2 yaitu yang
terpaut pada autosom dan terpaut pada sex kromosom.
a. Penyakit
menurun yang terpaut autosom
1. autosomal
resesif
Ø Albinisme (bulai) à kelainan pigmen melanin karena ketidakmampuan pembentukan
enzim yang mengkonversi asam amino tirosin menjadi
beta-3,4-dihidroksiphenylalanin yang nantinya akan dirubah menjadi pigmen
melanin.
Ø PKU (phenylketonuria) à
penyakit gangguan mental akibat
ketidakmampuan konversi phenylalanin menjadi tirosin, dimana konsentrasi yang
tinggi dari phenylalanin dalam darah akan mengganggu perkembangan otak.
Ø Cystic fibrosis (CF) à
terjadi kelainan metabolisme protein
sehingga terjadi kemunduran organ-organ tubuh.
Ø Tay-sach
à terjadi
degenerasi saraf, intelektual dan lemah otot.
Ø DM (Diabetes Mellitus) à
penyakit akibat terjadi proses
hyperglikemia
2. Autosomal
dominan
Ø Thalasemia
à penyakit yang
menyebabkan eritrosit hemolisis, bentuk tak teratur, kadar Hb rendah.
Ø Polidaktili
à memiliki
kelebihan jari pada tangan atau kaki.
Ø Dentinogenesis Imperfecta à
kelainan gigi dimana dentin berwarna
putih susu.
Ø Retinal aplasia à kelainan yang menyebabkan lahir dalam kondisi buta.
Ø Anonychia
à kelainan tidak
tumbuhnya kuku dari beberapa jari tangan atau kaki atau tidak tumbuh sama
sekali.
b. Penyakit
menurun yang terpaut sex kromosom
1. Terpaut pada
kromosom Y dan bersifat resesif
Ø Gen resesif wt
à tumbuh kulit
disela-sela jari kaki/tangan
Ø Gen resesif hg
à tumbuh rambut
panjang dan kaku di permukaan tubuh.
Ø Gen resesif hp
à penyakit
hipertrikosis yaitu tumbuh rambut pada bagian tubuh tertentu seperti di tepi
daun telinga.
2. Terpaut pada
kromosom X dan bersifat resesif
Ø Buta warna (colour blind) à
kelainan tidak bisa membedakan warna
baik sebagian ataupun total. Genotip pada penderita ini yaitu:
XcbY (laki-laki buta warna), XY (normal), XcbXcb
(wanita buta warna), XXcb (wanita carier/heterozigot), XX (normal).
Ø Hemofilia
à kelainan dimana
darah sukar membeku. Dibedakan menjadi 2 yaitu hemofilia A (penderita tidak
memiliki antihemofilia globulin [ A HG ] ) dan hemofilia B (penderita tidak
memiliki faktor plasma tromboplastin komponen [PTK] ). Genotip pada penderita
ini yaitu:
XY (normal), XhY (laki-laki hemofilia), XX (normal), XhXh
(wanita hemofilia), dan XXh (wanita
carier/heterozigot).
Ø Anodontia
à penderita tidak
memiliki benih gigi sama sekali pada tulang rahangnya dan disandi gen a.
Ø Sindrom Lesch-Nyhan à penderita mengalami pembentukan purin berlebihan terutama
basa guanin. Lambang dari gen untuk penyakit ini yaitu in. Penderita akan
sering kejang, sering merusak jaringan di bibir, kuku, sukar menelan dan
muntah-muntah.
Ø Hidrosefali tertaut X à
terjadi pembesaran rongga kepala akibat
penimbunan cairan serebrospinal.
c. Golongan
darah
1. Sistem A
B O à oleh Karl Landsteiner (1900)
Golongan darah A
à homozigot (IAIA), heterozigot (IAIO)
Golongan darah B
à homozigot ( IBIB), heterozigot
(IBIO)
Golongan darah AB
à bergenotip (IAIB)
Golongan darah O
à bergenotip
(IOIO)
2. Sistem
Rhesus à oleh Karl Landsteiner dan A. S. Wiener (1940)
Rhesus positif
à memiliki
antigen Rh pada darahnya
Genotip: Rh Rh = RR dan Rh rh = Rr
Rhesus negatif
à tidak memiliki
antigen Rh pada darahnya
Genotip: rh rh = rr
Jika terjadi pernikahan antara pria rhesus positif (RR) menikah dengan
wanita rhesus negatif (rr) akan menghasilkan filial rhesus positif Rr dimana
antigen Rr pada darah bayi akan di aglutinasi oleh antibodi ibu sehingga
memunculkan peristiwa eritroblastosis fetalis.
3. Sistem MN à
oleh Karl Landsteiner dan P.Levine
(1927)
Pada golongan darah ini diketahui terdapat antigen M dan N pada eritrosit.
Golongan darah M à genotip LMLM
Golongan darah N à
genotip LNLN
Golongan darah MN à genotip LMLN
Standar Kompetensi:
menerapkan prinsip hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat.
A.
Pola-Pola
Hereditas
1.
Pewarisan
Sifat
a.
Genetika adalah ilmu mengenai pewarisan sifat-sifat induk pada
turunannya.
2.
Istilah
dalam Pewarisan Sifat
a.
Parental: induk atau orang tua atau tetua. Parental disingkat P.
b.
Filial: keturunan yang diperoleh sebagai hasil dari perkawinan
parental. Keturunan pertama disingkat F1, keturunan kedua disingkat
F2, keturunan ketiga disingkat F3, dan seterusnya.
c.
Dominan: sifat yang muncul pada keturunan, yang artinya dalam suatu
perkawinan sifat ini dapat mengalahkan sifat pasangannya.
Gen dominan:
gen yang dapat mengalahkan atau menutupi gen lain yang merupakan pasangan
alelnya dan memakai simbol huruf besar.
d.
Resesif: sifat yang muncul pada keturunan, yang artinya dalam suatu
perkawinan sifat ini dapat dikalahkan oleh sifat pasangannya.
Gen resesif:
gen yang dikalahkan atau ditutupi oleh gen lain yang merupakan pasangan alelnya
dan memakai simbol huruf kecil.
e.
Genotip: susunan genetik suatu sifat yang dikandung suatu individu
yang menyebabkan munculnya sifat-sifat pada fenotip.
f.
Fenotip: sifat lahiriah yang merupakan bentuk luar yang dapat
dilihat atau diamati.
g.
Alel: anggota pasangan gen yang mempunyai sifat alternatif
sesamanya. Gen-gen ini terletak pada lokus yang bersesuaian dari suatu kromosom
yang homolog.
h.
Homozigot: pasangan alel dengan gen yang sama, keduanya gen dominan
atau resesif.
i.
Heterozigot: pasangan alel dengan gen yang tidak sama, yang satu gen
dominan dan lainnya gen resesif.
j.
Pembastaran: perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda.
3.
Hukum
Mendel
a.
Hukum
Mendel I (Hukum Segregasi),
menyatakan bahwa ketika berlangsung pembentukan gamet pada individu, akan
terjadi pemisahan alel secara bebas. Persilangan monohibrid membuktikan hukum
Mendel I. Persilangan monohibrid merupakan persilangan dengan satu sifat beda.
Untuk mengetahui keadaan genotip F1 dapat dilaksanakan:
1)
testcross (uji silang):
mengawinkan individu hasil hibrida (F1) dengan salah satu
induknya yang homozigot resesif. Tujuan uji silang ini untuk mengetahui keadaan
genotip suatu individu, apakah homozigot atau heterozigot.
2)
backcross
(silang balik): mengawinkan individu
hasil hibrida (F1) dengan salah satu induk, baik induk homozigot
dominan ataupun resesif. Tujuan backcross adalah untuk mengetahui
genotip induknya.
Intermediet: penyilangan dengan satu sifat beda, namun sifat dominan
tidak mampu menutupi sifat resesif sehingga muncul sifat diantara keduanya.
b.
Hukum
Mendel II, menyatakan bahwa pada saat
penentuan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara bebas dan mengelompok
secara bebas pula. Persilangan dihibrid merupakan bukti berlakunya hukum Mendel
II. Mendel melanjutkan persilangan, dengan menyilangkan tanaman yang memiliki
dua sifat beda (dihibrid), yaitu warna dan bentuk kacang ercis. Dia
menyilangkan kacang ercis biji bulat (B) warna kuning (K) dengan kacang ercis
biji kisut (b) warna hijau (k). Hasilnya F1 memiliki fenotip kacang
ercis biji bulat warna kuning (100%). Setelah F1 disilangkan dengan
sesamanya menghasilkan keturunan F2 dengan rasio fenotip 9 (bulat
kuning) : 3 (bulat hijau) : 3 (kisut kuning) : 1 (kisut hijau).
4.
Penyimpangan
Semu Hukum Mendel
Pada persilangan dihibrid pada keturunan ke-2 (F2)
akan mempunyai perbandingan fenotip = 9 : 3 : 3 : 1. Tetapi dalam keadaan tertentu
perbandingan fenotip tersebut tidak berlaku. Dari beberapa percobaan, ternyata
ada penyimpangan hukum Mendel. Hal itu dapat terjadi karena adanya interaksi
antargen, atau suatu gen dipengaruhi oleh gen lain untuk memunculkan sifat
tertentu sehingga menyebabkan perbandingan fenotip yang keturunannya menyimpang
dari hukum Mendel. Keadaan semacam ini disebut penyimpangan hukum Mendel.
Jika
gen yang berinteraksi dihibrid yang menurut Mendel perbandingan fenotip F2
adalah 9 : 3 : 3 : 1 dapat menjadi 9 : 3 : 4 (kriptomeri), 9 : 7 (komplementer), 15 : 1 (polimeri)
atau 12 : 3 : 1. (epistasis dan hipostasis) dan interaksi gen 9
: 3 : 3 : 1 dengan sifat baru yang berbeda dengan kedua induknya.
5.
Pautan
Merupakan gen-gen yang terletak pada
kromosom yang sama atau dalam satu pasang kromosom homolog. Pautan antara dua macam
gen atau lebih akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan genotip dan
fenotip yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan gen-gen yang tidak
berpautan. Hal ini disebabkan gamet-gamet yang dihasilkan jumlahnya lebih
sedikit.
6.
Pindah
Silang (Crossing Over)
Pindah silang
diartikan sebagai peristiwa bertukarnya bagian kromosom satu dengan kromosom
lainnya yang homolog, atau bagian kromosom lainnya yang tidak homolog. Peristiwa
pindah silang terjadi pada pembelahan meiosis profase I, subfase pakiten dan
akan berakhir pada metafase I.
Pindah silang akan menghasilkan keturunan yang terdiri atas kombinasi
parental (KP) dan rekombinan (RK).
Nilai pindah
silang adalah angka
yang menunjukkan persentase rekombinasi dari hasil-hasil persilangan. Semakin
jauh jarak antarkedua gen, semakin besar kemungkinan terjadinya pindah silang.
Nilai pindah silang (NPS) dapat dihitung dengan rumus:
Peta kromosom adalah suatu gambar yang menyatakan jarak gen-gen yang
terletak pada lokus yang berderet-deret dalam suatu kromosom. Ukuran yang
dipakai untuk menentukan jarak antargen antarlokus disebut unit.
Titik pengukuran jarak antargen dimulai dari sentromer, jika gen a berjarak
12,5 unit, berarti gen A berjarak 12,5 unit dari sentromer. Jika gen B berjarak
15,5 unit, berarti gen B berjarak 15,5 unit dari sentromer. Berdasarkan
informasi jarak gen A dan B dari sentromer kita dapat menghitung jarak antara
gen A dengan B, yaitu 15,5 – 12,5 = 3
unit.
7.
Penentuan
Jenis Kelamin
Penentuan jenis kelamin pada berbagai organisme tidak sama. Beberapa tipe
penentuan jenis kelamin yang dikenal adalah sebagai berikut.
a.
Sistem XX – XY
1) Pada manusia:
wanita 44 A + XX atau 22 AA + XX, pria 44 A + XY atau 22 AA + XY
2) pada Lalat
buah: XX → betina (6 A +
XX atau 3 AA + XX), XY → jantan (6 A + XY atau 3 AA + XY)
b. Sistem XX – XO
(pada belalang): XX → betina (22A + XX), XO → jantan (22A + XO).
c.
Sistem ZW – ZZ
(pada kupu-kupu, ngengat, ikan, burung): ZW → betina (78 A +
ZW), ZZ → jantan (78 A + ZZ).
d. Sistem ZO – ZZ
(pada ayam, itik): ZO → betina (76A + ZO), ZZ → jantan (76A + ZZ).
8.
Pautan
Seks
Merupakan peristiwa tergabungnya
beberapa sifat pada kromosom seks. Pautan seks dapat terjadi pada kromosom X
atau kromosom Y.
Contoh: gen penentu warna mata pada
lalat Drosophila terpaut pada
kromosom X.
9.
Gen
Letal
Merupakan gen yang dalam keadaan
homozigot menyebabkan kematian pada individu yang membawanya.
a.
Gen letal dominan: jika gen dominan
dalam keadaan homozigot menyebabkan kematian. Contoh:
1)
Thallasemia (ThTh) pada manusia;
2)
Tikus bulu kuning (KK);
3)
Ayam Redep (RR);
4)
Ayam tidak berjambul (JJ).
b.
Gen letal resesif: jika gen resesif
dalam keadaan homozigot menyebabkan
kematian. Contoh:
1)
Sapi Bulldog (dd);
2)
Sickle
cell (ss) pada manusia;
3)
Kelinci Pegler (pp).
B.
Hereditas
pada Manusia
1.
Golongan
Darah
Golongan darah bersifat menurun
(genetis). Golongan darah pada manusia dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok,
yaitu:
a.
Sistem ABO ditentukan oleh 3 macam
alel, yaitu Ia, Ib, dan Io;
b.
Sistem Rhesus, ditentukan oleh gen
Rh untuk rhesus (+) dan gen rh untuk rhesus (-). Alel Rh bersifat dominan
terhadap alel rh;
c.
Sistem MN, ditentukan oleh 2 macam
alel, yaitu LM dan LN.
2.
Cacat
dan Penyakit Menurun pada Manusia
Ciri-ciri
penyakit menurun:
a. tidak menular pada orang lain;
b. tidak dapat disembuhkan, karena ada kelainan dalam
substansi hereditas (gen);
c. umumnya dikendalikan oleh gen resesif dan hanya
muncul pada seseorang yang homozigot resesif.
Cacat dan
penyakit menurun pada manusia dapat diwariskan melaui autosom dan ada yang
melalui kromosom seks (terpaut seks).
a. Terpaut Autosom
1) Albino, disebabkan ketidakmampuan tubuh
membentuk enzim pengubah tirosin menjadi pigmen melanin yang dikendalikan oleh
gen resesif a. Orang normal memiliki genotip AA dan normal carier Aa. Seorang albino
dapat lahir dari pasangan yang keduanya carier.
2) Polidaktili,
merupakan kelainan bawaan dalam
autosom yang dibawa oleh gen dominan. Penderita dapat dilahirkan dari pasangan
orang tua yang sama-sama polidaktili heterozigot (Pp), atau dari pasangan yang
salah satu polidaktili (PP) dan yang lainnya normal (pp).
3) Brakidaktili,
merupakan kelainan yang berupa memendeknya jari-jari akibat ruas-ruas jarinya
pendek. Kelainan ini dikendalikan oleh gen dominan (B) yang bersifat letal.
Dengan demikian, keadaan dominan homozigot (BB) akan menyebabkan kematian,
genotip heterozigot (Bb) akan menyebabkan brakidaktili, dan homozigot resesif
(bb) normal.
b. Terpaut pada Kromosom Seks
Manusia
1) Gen-gen
abnormal terpaut kromosom Y (Holadrik) antara lain:
a) webbed toes, merupakan kelainan sifat yang ditandai dengan pertumbuhan selaput
diantara jari-jari, seperti halnya kaki bebek atau kaki katak. Sifat tersebut
dikendalikan oleh resesif (wt) sedangkan gen dominan Wt menentukan keadaan
normal.
b) hyserix gravior, merupakan
kelainan yang ditandai dengan pertumbuhan rambut yang kasar dan panjang, mirip
duri landak. Sifat rambut ini dikendalikan oleh gen resesif (hg). Gen Hg
mengekspresikan pertumbuhan rambut normal.
c)
hypertrikosis, merupakan
kelainan yang ditandai dengan pertumbuhan rambut yang berlebihan pada tubuh.
Sifat ini dikendalikan oleh gen resesif (ht). Gen H menyebabkan keadaan normal.
2)
Gen-gen abnormal terpaut kromosom X antara
lain:
a)
Hemofilia, penyakit genetik dimana darah sukar membeku pada saat
terjadi luka. Tubuh mengalami kegagalan dalam pembentukan enzim tromboplastin
(enzim pembeku darah) sehingga penderita akan sering mengalami pendarahan. Gen ini
bersifat resesif yang terkandung dalam kromosom X. Oleh karena itu, genotip
penderitanya menjadi XhXh (letal), dan XhY,
sementara wanita carier adalah XHXh. Wanita hemofilia
hanya ada secara teori, sebab akan mati pada saat embrio.
b)
Buta
Warna (Colour Blind), kelainan
pada retina mata seseorang, yaitu pada sel kerucutnya tidak peka terhadap
cahaya yang berwarna. Jika buta warna dibawa oleh gen resesif cb yang terpaut
pada kromosom X, maka penderitanya adalah XcbXcb dan XcbY,
sementara XCBXcb adalah wanita carier.
c)
Anenamel (Gigi Tak Beremail),
kelainan ini
dibawa oleh gen yang bersifat dominan pada kromosom X. Gen g menentukan gigi
normal, sementara gen G anenamel. Ciri-cirinya antara lain gigi kekurangan
lapisan email sehingga giginya berwarna coklat dan lebih cepat rusak. Penderita
bergenotip XGY, XGXG, dan XGXg.
sementara genotip normalnya adalah XgY dan XgXg.
d) Anodontia, kelainan yang dibawa oleh kromosom X
dan muncul dalam keadaan resesif. Ciri-cirinya antara lain tidak memiliki gigi sehingga
tampak ompong. Kelainan ini lebih sering dijumpai pada pria sebab seorang pria
yang mengandung satu gen a (gen anodontia) sudah menampakkan gejalanya (XaY),
sementara pada wanita baru menampakkan sebagai penderita jika genotipnya XaXa.
Contoh Soal dan Penyelesaian
1.
Pada tikus terdapat alela ganda
untuk warna bulu:
Ay = gen kuning
A =
gen hitam
a =
gen kelabu
Bila: Ay = dominan
terhadap A, dan A = dominan terhadap a, sedangkan homozigot Ay
bersifat letal, maka hasil persilangan antara AyA dengan Aya
akan menghasilkan turunan ….
A. 2 hitam : 1 kelabu
B.
2 kuning : 1 kelabu
C.
3 kuning : 1 hitam
D. 2 kuning : 1 hitam
E.
2 kuning : 1 hitam : 1 kelabu
Penyelesaian
P : AyA >< Aya
G : Ay Ay
A a
F :
|
Gamet
|
Ay
|
A
|
|
Ay
|
Ay Ay
|
AyA
|
|
a
|
Aya
|
Aa
|
Letal : Ay Ay
Kuning : AyA, Aya
Hitam : Aa
Perbandingan fenotip = letal : kuning : hitam = 1 : 2 : 1
Jawab D
Langganan:
Komentar (Atom)

